Senin, 12 November 2018

SIro Sabtu, 10 Nov 18


Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI
PW S. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Bacaan Injil
Luk 16:9-15

Jika kalian tidak setia mengurus mamon yang durhaka,
siapakah yang mau mempercayakan harta sejati kepadamu?

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Ikatlah persahabatan
dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur,
supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi,
kalian diterima di dalam kemah abadi."
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil,
ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil,
ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Jadi jika kalian tidak setia mengurus mamon yang tidak jujur,
siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu?
Seorang hamba tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian
ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain;
atau ia akan setia kepada yang seorang,
dan tidak mengindahkan yang lain.
Kalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi,
hamba-hamba uang itu,
dan mereka mencemoohkan Yesus.
Maka Yesus berkata kepada mereka,
"Kalian membenarkan diri di hadapan orang,
tetapi Allah mengetahui hatimu.
Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah."

Demikianlah sabda Tuhan.
=======================
SIRAMAN ROHANI                                                                                                                    
Sabtu, 10 November 2018                                                                                                                    
RP Fredy Jehadin, SVD

Tema: Setia, Jujur Dan Tanggungjawab Mendatangkan Berkat!                                                        Lukas 16: 9-15.

Saudara-saudari... Saya mengenal seorang uskup, yang sangat rendah hati. Sebelum menjadi uskup, ia menjabat sebagai provinsial. Selama sebagai provincial banyak anggota serikat di wilayahnya sangat senang dengan beliau. Ia sangat sederhana dan rendah hati, baik dalam bertutur kata maupun dalam bertingkahlaku. Sebelumnya, ia menjabat sebagai pastor paroki. Umat di parokinya pun sangat senang dengan beliau. Ia selalu mengunjungi umatnya, terlebih umat-umat yang sangat sederhana. Ia juga mengunjungi keluarga-keluarga, yang dianggap kaya dan berstatus social tinggi. Ia sungguh bergaul rata, tidak membeda-bedakan. Selama di seminari menengah dan tinggi, ia termasuk orang yang bekerja keras dan sangat bertanggunjawab. Tugas apa saja yang diberikan kepadanya, selalu dijalankannya dengan sangat baik. Ia sungguh mencintai tugas dan pekerjaannya. Sebelum masuk seminari, ia bekerja sebagai koster, membantu menyiapkan altar setiap pagi. Ia selalu bangun pagi-pagi dan pergi ke gereja menyiapkan altar. Karena kesetiaan dan ketekunannya dalam berdoa, Pastor paroki mengajak dia masuk seminari. Ajakan ini diterimanya dengan senang hati. Karena sudah terbiasa dengan doa, setia dan jujur dalam perkara-perkara kecil, maka selama masa belajar pun ia tidak alami banyak kesulitan, yang bisa menggagalkan proses belajarnya untuk menjadi imam. Selama jadi imam pun demikian. Ia sangat setia menjalankan tugasnya sebagai imam dan selalu merangkul umatnya dengan penuh kasih. Keberhasilan dan kesetiaannya dalam perkara-perkara kecil ini, kini ia ditugaskan untuk memimpin Gereja Lokal, sebagai Uskup.

Saudara-saudari... Apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus dalam Injil hari ini - Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar - sudah menjadi kenyataan dalam diri uskup ini. Selama 4 tahun di SMP, ia bertugas sebagai Koster. Tugas itu dijalankannya dengan penuh tanggungjawab. Ia sangat setia, jujur, disiplin dan kerja keras dalam perkara-perkara kecil. Karena kesetiaan dan kerja keras yang sudah ditanamkanya selama masa kecil dan dipupuki terus sampai dewasa, maka ia pun dipercayakan untuk menjalankan tugas yang lebih besar lagi, yaitu memimpin Gereja Lokas, sebagai Uskup. Sungguh satu tugas yang mulia, tetapi tidak muda.

Pertanyaan kita, apakah kesetiaan dan tanggungjawab dalam mengerjakan tugas, sudah menjadi tolok ukur akan keberhasilan kita dan secara otomatis kita akan dipromosikan? Kalau kita menggunakan tolok ukur atau standard Tuhan, maka sudah pasti kesetiaan dan tanggungjawab kita dalam tugas akan mendatangkan berkat bagi kita; tetapi dalam kehidupan bermasyarakat, betapa sering ada orang yang menggunakan tolok ukur atau standard lain. Menurut St. Ignasius dari Loyola, katanya ada orang yang menggunakan tolok ukur setan atau standard setan, yaitu dengan menggunakan uang dan orang dalam.  Untuk meraih jabatan yang lebih tinggi, orang membelinya dengan uang. Jadi bukan kesetiaan, kejujuran dan kerja keras yang dinilai, tetapi seberapa banyak uang yang bisa diberikan kepada orang yang punya kuasa untuk memberikan jabatan kepadanya.

Saudara-saudari... sebagai pengikut Kristus, marilah kita ikuti contoh hidup yang sudah ditunjukkan oleh uskup, yang rendah hati dalam ceritera tadi: setia, jujur, kerja keras, bertanggungjawab dan sederhana. Sikap-sikap inilah yang membuat kita akan semakin dipercayai oleh sesama dan diberkati Tuhan.

Kita berdoa, semoga Tuhan selalu membantu kita, agar kita tetap setia dan tekun menjalankan tugas yang sudah dipercayakan-Nya kepada kita dan dengan penuh tanggungjawab mengerjakan semuanya, sehingga nama-Nya selalu dimuliakan lewat kesaksian hiudp kita.  

Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amin

Tidak ada komentar: